Ngubek Empang Depok Diusulkan Menjadi Cabang Olahraga

Tradisi Depok: Tradisi Ngubek Empang di Kota Depok dimainkan sebagai tanda usulan menjadi olahraga nasional, Sabtu (13/12). Istimewa

Aroundjakarta.com — Tradisi ngubek empang yang selama ini identik dengan suasana jelang Idul Fitri di kalangan masyarakat Betawi Depok mulai diarahkan ke panggung yang lebih luas. Aktivitas menangkap ikan di empang dengan tangan kosong itu kini didorong tidak hanya sebagai agenda budaya, tetapi juga dikembangkan menjadi cabang olahraga tradisional agar tetap lestari di tengah perubahan zaman.

Ketua Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD), Ahmad Dahlan, menegaskan bahwa ngubek empang bukan tradisi musiman tanpa akar sejarah. Praktik ini telah hidup sejak ratusan tahun lalu, bahkan sejak masa kolonial Belanda, ketika empang-empang besar tidak bisa dikeringkan dan masyarakat memilih mengubak air untuk menangkap ikan sebagai persiapan kebutuhan Lebaran.

“Biasanya kan memang menjelang Hari Raya Idul Fitri itu masyarakat Betawi-Depok untuk mempersiapkan Hari Raya, kebutuhan lauk, ikan air tawar itu ngubak empang. Kenapa ngubak empang? Karena banyak dulu empang yang tidak bisa dikeringin, nggak bisa dibedah, airnya diubap untuk cara menangkatnya,” ujar Ahmad Dahlan.

Ia menyebut, catatan dan dokumentasi yang dimiliki komunitasnya menunjukkan aktivitas ini telah berlangsung sejak era kolonial. Bahkan, di kawasan rawa besar di Depok, tradisi ngubek empang sudah dilakukan sejak zaman Belanda.

“Mungkin sudah ratusan tahun ya, dari jaman Belanda ini sudah ada. Kita ada dokumentasi bahwa pernah ngubak di satu rawa besar itu, jaman Belanda itu udah ngubak,” jelasnya.

Seiring waktu, keberadaan empang di Depok kian menyusut akibat pembangunan. Kondisi itu, menurut Ahmad Dahlan, berbanding lurus dengan memudarnya tradisi yang menyertainya. Karena itu, KOOD mendorong ngubek empang dijadikan agenda rutin dalam rangkaian Lebaran Depok sekaligus diusulkan sebagai warisan budaya tak benda.

“Kita jadikan Lebaran Depok menjadi agenda rutin. Kedua, jangan sampai ini hilang tradisi ini,” tegasnya.

Tak berhenti pada pelestarian budaya, KOOD bersama Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (Portina) Kota Depok melihat peluang lain. Ngubek empang dinilai memiliki unsur ketangkasan, kekuatan, dan strategi yang bisa dikemas sebagai olahraga tradisional. Gagasan tersebut mulai diuji coba melalui lomba dengan format yang lebih terukur.

“Hari ini kita launching ngubak empang dengan kolam yang lebih kecil, empangnya lebih kecil, pesertanya pun dibatasi hanya empat orang satu tim dan jumlah ikan dibatasi,” kata Ahmad Dahlan.

Dalam format lomba, peserta dituntut mengandalkan kemampuan fisik tanpa alat bantu. Mereka harus menangkap ikan menggunakan tangan kosong dalam batas waktu tertentu, dengan penilaian berdasarkan jumlah ikan yang berhasil ditangkap.

“Ini kita lihat ketangkasan bagaimana peserta lomba ini menangkap ikan tanpa alat bantu, gak boleh pakai alat bantu, menggunakan tangan. Ini ada durasinya 10 menit dan pemenangnya adalah yang paling banyak dapat ikan. Bukan berat tapi jumlah yang paling banyak dapat ikan,” jelasnya.

Uji coba awal menggunakan ikan nila atau mujair yang dinilai lebih aman sekaligus menantang bagi peserta.

“Ini uji coba pertama kita menggunakan ikan nila atau ikan mujair karena yang relatif aman dan agak susah ditangkapnya ikan mujair. Kalau lele, ini kita lihat karena ada patilnya ya, jadi takut berulaya,” ungkap Ahmad Dahlan.

Ia juga memaparkan standar awal arena lomba yang tengah disiapkan, mulai dari ukuran kolam hingga kedalaman air, sebagai bagian dari tahapan menuju olahraga resmi.

“Ini kan panjangnya 6 meter, luasnya 3 meter, lebarnya 3 meter, dengan ada tiga anak tangga dan kedalaman air 80 cm,” paparnya.

Ke depan, KOOD mendorong agar ngubek empang diusulkan secara resmi sebagai olahraga tradisional di bawah naungan Portina, Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI), serta didukung Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata.

“Mudah-mudahan tadi dari Ketua Kormi akan mengusulkan bahwa ini menjadi olahraga, olahraga tradisional sampai tingkat nasional. Kalau ini sudah jadi sampai tingkat nasional, kita di Depok dulu,” ujarnya.

Menurut Ahmad Dahlan, perubahan bentuk dari tradisi ke olahraga bukan berarti menghilangkan nilai budaya. Justru sebaliknya, langkah ini dipandang sebagai cara agar tradisi tetap hidup dan relevan bagi generasi muda.

“Walaupun berubah wujud dari ngubek tradisional, jadi di ngubek empang dalam bentuk olahraga, jadi tidak hilang, bisa dilestarikan,” pungkasnya.

Dukungan juga datang dari Ketua Portina Kota Depok, Irfan Januar. Ia menilai ngubek empang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai olahraga tradisional yang khas.

“Kami sangat mendukung, tradisi ngubek empang ini dijadikan sebagai jenis olahraga tradisional,” tuturnya.

Menurut Irfan, inisiatif ini tidak hanya menjaga warisan budaya lokal, tetapi juga membuka peluang ngubek empang dikenal lebih luas hingga tingkat nasional. “Ini sebagai upaya melestarikan budaya, dan semoga bisa dikembangkan menjadi olahraga nasional,” katanya.

Portina Kota Depok, lanjut Irfan, siap mewadahi gagasan tersebut dengan menyusun aturan baku, mulai dari standar arena hingga mekanisme perlombaan, agar ngubek empang dapat diakui sebagai bagian dari olahraga tradisional Indonesia.

Post Comment