Fadli Zon Sebut Humaniora Tak Kalah, Indonesia Punya Keunggulan di Bidang Kebudayaan
Aroundjakarta.com – Penguatan pendidikan sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) tidak semestinya membuat ilmu humaniora tersisih. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai Indonesia justru memiliki keunggulan yang kuat di bidang humaniora dan kebudayaan yang perlu terus dikembangkan.
Hal itu disampaikan Fadli saat menghadiri Simposium Nasional Guru Besar Humaniora yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), Depok, Selasa (11/8).
Menurut Fadli Zon, perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun, teknologi harus ditempatkan sebagai alat untuk membantu manusia, bukan mengambil alih peran manusia dalam menentukan arah kehidupan.
“AI itu kan sesuatu yang tidak bisa kita hindari, itu sebuah keniscayaan. Machine learning, artificial intelligence yang kita ciptakan itu harus kita tempatkan sebagai alat, sebagai instrumen untuk kepentingan kita. Jangan justru mereka yang menjadi pemikir utama,” kata Fadli.
Dia menilai ada aspek-aspek yang tidak dapat sepenuhnya digantikan AI. Salah satunya menyangkut nilai kemanusiaan dan peradaban.
“Saya yakin bahwa ke depan yang tidak bisa dilakukan oleh AI itu adalah persoalan nilai-nilai kemanusiaan, peradaban dan lain-lain. Kalau yang terkait dengan pengetahuan mungkin bisa, tapi harus kita jadikan bahwa ini juga terangkap untuk memajukan kebudayaan dan saya kira itu mempercepat proses kita. Kita harus melihat dari sisi positif,” ujarnya.
Meski demikian, Fadli mengakui perkembangan AI juga membawa tantangan bagi pekerja budaya dan industri kreatif. Sejumlah pekerjaan kreatif berpotensi diambil alih teknologi.
“Tantangannya memang mungkin dalam waktu dekat ini ada sejumlah kerja-kerja budaya atau kerja-kerja kreatif yang diambil alih oleh AI. Ini juga satu tantangan tersendiri bagi para praktisi budaya, praktisi di bidang ekonomi kreatif juga agar tentu meningkatkan dan mencari kebaruan, inovasi dari bidangnya,” tutur dia.
Karena itu, Fadli mendorong para akademisi humaniora memperkuat kajian mengenai kebudayaan Indonesia. Salah satunya dengan menyusun sejarah Nusantara secara lebih komprehensif.
“Sejarah kita ini belum banyak yang ditulis secara utuh, misalnya sejarah Majapahit. Kita selalu bicara kebesaran Majapahit, tapi kita tidak punya buku yang utuh memotret sejarah atau menuliskan sejarah Majapahit dalam satu kajian yang komprehensif, mulai dari ekonomi, politik, kehidupan sehari-hari, budaya, tentu saja agama, dan lain-lain,” katanya.
Menurut dia, kajian serupa juga perlu dilakukan terhadap berbagai kerajaan besar Nusantara lainnya.
“Nah, ini yang kita harapkan ke depan itu kita mempunyai itu sebagai referensi Majapahit, Sriwijaya, Pajajaran, Samudra Pasai dan kerajaan-kerajaan Nusantara yang besar yang mempunyai jejak peradaban yang juga besar di Nusantara ini,” ujarnya.
Fadli menegaskan, pengembangan humaniora tidak berarti harus berhadapan dengan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Sebaliknya, kedua rumpun keilmuan tersebut dapat dikembangkan melalui pendekatan interdisipliner.
“Saya kira afirmasi STEM itu juga sudah tepat dan banyak urusan ilmu humaniora sekarang ini yang tidak bisa dipisahkan juga dengan STEM. Jadi, pendekatan interdisipliner itu sangat penting,” jelasnya.
Dia mencontohkan pemanfaatan teknologi dalam bidang kebudayaan. AI dapat digunakan untuk membantu pengembangan museum, musik, film hingga kajian arkeologi.
“Soalnya bicara AI, AI kan bisa dipakai juga terkait dengan museum, terkait dengan musik, terkait dengan film dan juga yang lain-lain. Itu contoh. Juga arkeologi sangat erat sekali dengan STEM sebenarnya, carbon dating, penerapan uji uranium series, LiDAR, itu STEM semua,” paparnya.
Karena itu, Fadli memastikan pemerintah tetap memberikan perhatian terhadap riset humaniora. Dia menyebut dukungan anggaran riset juga perlu diarahkan agar hasil penelitian tidak berhenti pada kajian akademik, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat.
“Kalau dari sisi anggaran, saya kira pemerintah berkomitmen itu untuk mengajukan itu selain STEM juga di humaniora,” kata Fadli.
“Dan juga kemarin baru saja kan kita lihat Presiden memberikan anggaran tambahan, terutama untuk riset yang cukup besar. Itu sangat penting, saya kira. Tapi bagaimana riset ini juga bisa menjadi hasilnya, itu bisa dimanfaatkan, bisa diterapkan. Dan ini yang saya kira orientasinya juga selain proses itu output,” sambungnya.
Fadli bahkan menilai humaniora Indonesia memiliki posisi yang kuat dibandingkan negara lain. Menurutnya, keunggulan tersebut harus menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional.
“Jadi kalau humaniora saya kira sudah kuat. Kita bahkan sebenarnya potensi ini harus kita jadikan bagian dari yang utama juga, karena mungkin untuk bidang-bidang sains teknologi kita masih di belakang negara-negara maju, tapi untuk humaniora kita tidak kalah sebenarnya. Justru itu menjadi bagian yang kita dianggap terdepan,” ungkapnya.
Sementara itu, Dr. Untung Yuwono, S.S., mengatakan Simposium Nasional Guru Besar Humaniora menjadi ruang bagi para guru besar dari berbagai perguruan tinggi untuk membahas posisi humaniora di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Sesuai dengan apa yang disampaikan Pak Menteri Kebudayaan tadi, FIB UI ini mengambil inisiatif untuk membicarakan hal-hal yang trendy tentang konteks yang terjadi sekarang ini,” kata Untung.
Dia mengatakan salah satu isu yang dibahas adalah posisi humaniora di tengah kebijakan yang dinilai memberikan perhatian besar terhadap STEM.
“Juga seperti yang disampaikan dalam pertanyaan saudara-saudara, bagaimana posisi humaniora itu sendiri menghadapi wacana yang berkembang pada saat ini, isu yang diajukan, dilemparkan, bahwa yang diperhatikan itu terbatas pada STEM saja,” ujarnya.
Simposium tersebut, lanjut Untung, diharapkan menghasilkan policy brief atau rekomendasi kebijakan yang dapat memperkuat posisi humaniora, baik dalam pengembangan keilmuan maupun penerapannya di tengah masyarakat.
“Dan kita akan coba mendiskusikan itu untuk kemudian kita nanti akan hasilkan semacam policy brief atau rekomendasi kebijakan yang nantinya akan diajukan kepada Kementerian Kebudayaan dalam rangka memperkokoh posisi humaniora di dalam konteks keilmuan ataupun penerapannya di dalam masyarakat,” jelasnya.
Para guru besar humaniora dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia akan mendiskusikan perkembangan keilmuan humaniora hingga menghasilkan rumusan mengenai hubungan humaniora dengan STEM.
“Yang menjadi target nanti, para guru besar tentu saja di bidang humaniora dari seluruh Indonesia pada hari ini sampai tanggal 13 itu akan mendiskusikan berbagai macam perkembangan keilmuan humaniora untuk sampai pada nanti simpulan, sebetulnya interaksi antara humaniora dengan bidang-bidang STEM itu seperti apa sekarang,” tuturnya.
“Dan bagaimana memperkokoh itu agar terjadi saling pemahaman atau saling memanfaatkan antara bidang humaniora dengan bidang-bidang yang lain,” sambung Untung.
Hasil pembahasan tersebut nantinya akan disampaikan kepada Menteri Kebudayaan.
“Nanti tanggal 13 Pak Menteri Kebudayaan akan menerima kami di Kementerian Kebudayaan untuk menerima juga nanti policy brief yang akan kami sampaikan kepada Pak Menteri,” pungkasnya.

Post Comment