Imbauan Wali Kota, PMI Depok Siapkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT
Aroundjakarta.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menyampaikan duka cita atas gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026. Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah.
Atas kondisi tersebut, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Depok, Dudi Mi’raz, mengatakan pihaknya mendapat imbauan dari Wali Kota Depok, untuk berkoordinasi dengan Sekretaris Daerah (Sekda) terkait rencana pengumpulan bantuan. Koordinasi dilakukan untuk memastikan bantuan yang dihimpun sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
“Ini akan kita komunikasikan dan laporkan kepada Sekda secara teknis. Kita kumpulkan dulu, bantuan apa yang dibutuhkan agar nantinya bisa bermanfaat dan berkah,” kata Dudi, Kamis (20/08/26) seperti dikutip dari berita.depok.go.id.
Untuk pengiriman relawan, Dudi mengatakan, PMI Kota Depok belum menjadikannya sebagai prioritas dalam penanganan saat ini. Dukungan di lapangan berupa tenaga relawan dapat dilakukan bersama relawan yang berada di NTB dan Sulawesi Selatan.
“Pemkot dan masyarakat menyampaikan duka cita yang mendalam. Semoga korban jiwa mendapat tempat terbaik di sisi Yang Maha Kuasa, keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan kita bisa memberikan doa serta bantuan yang sangat dibutuhkan,” tuturnya.
Berdasarkan perkembangan terbaru, gempa tersebut menyebabkan 70 orang meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka.
Selain itu, lebih dari 40 ribu warga mengungsi dan sebanyak 11.925 rumah mengalami kerusakan. Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah.
Pengumpulan bantuan akan dilakukan setelah kebutuhan di lokasi bencana terpetakan.
Langkah ini diharapkan membuat dukungan dari masyarakat Depok dapat diberikan secara tepat sasaran sekaligus membantu meringankan beban para korban.
Seperti diketahui gempa bumi Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. BMKG mencatat pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer.
BMKG menjelaskan gempa tersebut termasuk gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Flores Back Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” tulis BMKG dalam keterangan resminya.
Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami sekitar dua menit setelah gempa utama terjadi. BMKG kemudian memperbarui informasi berdasarkan analisis parameter gempa dan pemantauan muka air laut.
Setelah memantau kondisi muka air laut, BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB pada hari yang sama. BMKG menyatakan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan.(*)



Post Comment